Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ibu

Mendadak Aku Rindu Ibu

MENDADAK AKU RINDU IBU Muhammad Qowy Bu, apa kabarmu? Hari ini mendadak aku merindumu Rindu saat kau membuatkan sambal untukku Mengingatkanku untuk solat lima waktu Dan merawatku saat aku sakit dulu Bu, apa kabarmu di sana? Apakah kau sudah berjumpa dengan sang Maha Dan menceritakan tentangku pada-Nya Aku rindu omelanmu, bu. Rindu kasih sayangmu, senyummu, segalanya aku rindu Tak bisakah kau menjenguk sejenak saja dalam mimpi tidurku Agar aku dapat mengecup tanganmu Sebagaimana yang ku lakukan sebelum aku berangkat sekolah dulu Tak bisakah kau mampir semenit saja untuk menyapaku seperti biasa “le, kamu sudah makan?” ucapan itu yang selalu aku rindukan Bu, ada kabar bagus untukmu Tahun depan aku akan mempersunting bidadari idamanku Bidadari cantik, baik, solehah, sesuai dengan ciri menantu idamanmu Datanglah, bu Walau hanya sebatas menengokku dari langit Datanglah, bu Agar kau tahu betapa anggunnya menantu yan...

MENDADAK AKU RINDU IBU

MENDADAK AKU RINDU IBU Muhammad Qowy Bu, apa kabarmu? Hari ini mendadak aku merindumu Rindu saat kau membuatkan sambal untukku Mengingatkanku untuk solat lima waktu Dan merawatku saat aku sakit dulu Bu, apa kabarmu di sana? Apakah kau sudah berjumpa dengan sang Maha Dan menceritakan tentangku pada-Nya Aku rindu omelanmu, bu. Rindu kasih sayangmu, senyummu, segalanya aku rindu Tak bisakah kau menjenguk sejenak dalam mimpi tidurku Agar aku dapat mengecup tanganmu Sebagaimana yang ku lakukan sebelum aku berangkat sekolah dulu Tak bisakah kau mampir semenit saja untuk menyapaku seperti biasa “le, kamu sudah makan?” ucapan itu yang selalu aku rindukan Bu, ada kabar bagus untukmu Tahun depan aku akan mempersunting bidadari idamanku Bidadari cantik, baik, solehah, sesuai dengan kriteria menantu idamanmu Datanglah, bu Walau hanya sebatas menengokku dari langit Datanglah, bu Agar kau tahu betapa anggunnya menantu yang akan menjag...

DURIAN UNTUK EMAK

DURIAN UNTUK EMAK Muhammad Qowy* Wildan masih termenung diam di bawah tiang lampu merah. Ia melamun tentang harapan dan kenyataan. 15 tahun ia sudah jalani hidup dengan cara yang sama. Ya. Wildan adalah pengamen jalanan. Sesekali ia juga memungut kotoran sampah untuk tambahan harapan. Namun lagi-lagi kenyataan membuyarkan harapnya yang sudah menumpuk tak tertahan. “tiiin..tiiin” Bunyi bel mobil yang hampir menabrak sepeda motor—yang berhenti mendadak karena lampu merah menyala—membuyarkan lamunan Wildan. Ia beranjak dari lamunannya dan mulai bekerja seperti biasa. Ada yang berbeda darinya. Wajahnya tampak frustasi. Tak bersemangat seperti biasa. Terkadang—pada hari itu—ia juga mengamen dengan tangisan serius. “Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik....” Lirik lagu—nyanyian yang membuat Wildan menangis—milik grup band ternama di Indonesia itulah yang selalu ia nyanyikan saat mengamen di hari itu. Menangis. Ya. Menagi...